PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK

Pendidikan karakter akhir-akhir ini banyak dibicarakan dan diminati oleh banyak orang, khususnya dalam dunia pendidikan. Sejak tahun 2016 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan suatu program yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kata “penguatan” ini berarti bahwa karakter itu sendiri sudah ada dalam diri masing-masing anak, namun harus diberi stimulus untuk memberi penguatan tentang karakter itu sendiri dalam kehidupan pendidikan.

Berbicara pendidikan karakter dimasa pandemi seperti saat ini sangatlah “unik”, Kenapa “unik”?  Karena pendidikan kembali ke asalnya yaitu “Rumah”. Rumah menjadi pendidikan pertama atau sekolah pertama untuk setiap anak. Anak dapat belajar banyak hal, belajar berbicara, berjalan sampai menulis itu dilakukan dirumah. Maka dari itu, Ayah dan Ibu adalah guru pertama untuk anak, dan  menjadi contoh konkrit bagi anak. Anak dapat meniru karakter dari Ayah atau karakter Ibu , atau mungkin kombinasi dari keduanya.

Pengertian pendidikan karakter sendiri dapat dipahami dari tiap-tiap katanya secara terpisah. Pendidikan merupakan proses pembelajaran kebiasaan, keterampilan, dan pengetahuan manusia yang diteruskan dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Sementara itu, karakter merupakan akumulasi watak, sifat, dan kepribadian individu yang mengarah pada keyakinan dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi pendidikan karakter ini berfokus kepada pembiasaan yang terstruktur dan terencana dari pemberi pendidikan (Ayah dan Ibu) agar terpenuhi atau tercapai suatu karakter yang diinginkan. Apakah mudah melakukannya? Tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa. Ayah dan Ibu butuh yang namanya “Komitmen” dan “Konsisten” dalam melakukan pendidikan karakter ini. Disini Penulis selalu menekankan bahwa sang pemberi pendidikan karakter itu Ayah dan Ibu, tidak cuma Ayah dan tidak juga Ibu. Namun keduanya adalah satu paket dalam mendidik anak demi terpenuhi karakter yang diinginkan.

Perlu diskusi antara Ayah dan Ibu dalam memberikan pendidikan karakter kepada anak. Kenapa demikian? contohnya. Ayah dan ibu merencanakan untuk memahat suatu bentuk secara bersama-sama, bentuk tersebut direncanakan untuk bisa berjalan secepat mungkin. Ayah berpikir untuk memahat kuda, namun Ibu berpikir untuk memahat sebuah sepeda motor.  Dalam kasus ini , bentuk yang dibuat oleh Ayah dan Ibu tidaklah bagus, karena depannya bentuk Kuda dan belakangnya sepeda motor. Hal ini yang menyebabkan anak tidak terbentuk sempurnah dalam hal karakter yang diinginkan.

Sebagai Ayah dan Ibu yang memberi pendidikan seringkali menemui “kerikil kecil” dalam medidik anak. Namun Penulis sarankan untuk bisa didiskusikan kembali bentuk apa yang diinginkan secara detail. Dalam contoh kasus yang tadi kita bahas, fokusnya kepada bentuk yang berjalan secepat mungkin. Oleh karena itu Ayah dan Ibu bisa mengkombinasikan bentuk dari masing-masing, sehingga tercipta bentuk yang baru yang luar biasa. Contohnya seperti sepeda motor yang bergerak secapat 100 kuda.

Setelah sudah ditentukan bentuk apa yang diinginkan oleh Ayah dan Ibu, selanjutnya adalah “Pembiasaan”. Bentuk karakter yang sangat indah akan sirnah tanpa “Pembiasaan”. Pembiasaan seperti apa yang kita harus terapkan kepada anak. 5 (lima) menit, 3 (tiga) kali sehari dalam 7 (tujuh) hari adalah waktu pembiasaan dalam menerapkan pendidikan karakter. Dalam kurun waktu tersebut kita sempatkan untuk memberi semangat , dukungan, pujian, pelukan serta sentuhan fisik kepada anak kita.

Dengan perkembangan yang sangat pesat seperti saat ini anak-anak dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Revolusi industri dari 4.0 menuju ke 5.0 akan sangat berpengaruh dalam masa depan anak-anak kita. Oleh karena itu “Pendidikan Karakter” menjadi jawaban bagi anak-anak untuk menghadapi masa depan. Pembiasan yang akan diterapkan Ayah dan Ibu akan membuat anak lebih bertanggung jawab, disiplin , tajam membedakan dan lebih menguasai diri untuk kedepan. Anak-anak kita harus dibiasakan untuk berpikir bagaimana untuk bisa membuat atau memproduksi sesuatu ketimbang sebagai konsumen.

Berikanlah contoh orang yang sukses dalam menyelesaikan sesuatu sebagai motivasi bagi anak kita. Cotohnya Thomas Alva Edison yang menemukan bola lampu setelah mengalami 9.955 kali gagal. Hal ini mengajarkan bagi anak kita untuk tahan uji, jangan mudah menyerah dan fokus pada proses untuk mencapai tujuan yang maksimal.

Sebagai penutup Penulis mengucapkan terimakasih kepada setia orang tua yang sudah bekerja keras mendidik anak dimasa pandemi ini. Tetap semangat menjadi “Guru” bagi setiap anak kita.

Penulis : Roberto Sine, S.Pd (Guru Matematika SMP Kr. Tunas Bangsa- Kupang)